slider img
slider img
slider img

senyum saja...








Asmara Kita Dear Bihu Kita berdua, merangkai asmara.. Kamu ingat nggak saat malam tahun baru? Kita kencan bukan? Kita bercerita banyak. K...


Asmara Kita


Dear Bihu

Kita berdua, merangkai asmara..
Kamu ingat nggak saat malam tahun baru? Kita kencan bukan? Kita bercerita banyak. Kita saling berpegangan kata. Senyum kita berjabat. Rayu kita bergandengan. Bahkan hati kita berpelukan. Malam yang sangat berkesan. Malam dimana malaikat cinta merestui dua-duan kita.

Tahu nggak, Bihu, dimalam kencan jarak jauh kita itu, aku ingin sekali mengajak kamu berdansa. Beriring seribu degub, kuberanikan diri melingkari tanganku dipinggangmu. Kamu lingkari tanganmu dileherku. Kubayangkan lingkaran tanganmu berpegangan erat pada leherku di atas kakimu yang numpang berdiri di atas kedu kakiku demi melekatnya jidat kita. Kita berteman lingkaran obat nyamuk bakar (aku nggak mau ada nyamuk yang mengusik kencan kita). Diiringi sentuhan lagu Guardian Angel, kita merangkai keromantisan di dalam bujur sangkar yang temaram.

Kita berdua, merangkai asmara..
Kamu ingat nggak jelang ulang tahunmu, kamu meminta hadiah padaku. Aku sebenarnya sudah mempersiapkan hadiah untukmu. Namun aku bingung. Aku takut kamu nggak suka. Dan pas malam jelang ulang tahunmu, aku diserang armada antuk. Aku segera berinisiatif untuk menulis ucapan selamat atas seventenmu. Padahal, waktu itu malam masih bergelantungan di angka 22.00. Masih ada dua jam menuju empat Januari. Saat itu, aku tak mau kecolongan. Akulah yang ingin jadi yang pertama yang mengucapkan kata selamat di wall facebookmu.

Masih tentang ulang tahunmu. Kamu ada nyoret catatan kan? Dalam catatanmu, kamu merangkai kata-kata nyaman untuk seseorang yang pertama kali ngucapin selamat ulang tahun kepadamu. Seseorang yang ngucapin selamat ulang tahun kepadamu sebelum tiba waktunya. Sama nian kronologi ucapan selamat ulang tahun yang kututurkan padamu. Aku pun berpikir, seseorang itu akulah orangnya.

Wuahh! Ternyata aku kecele. Aku salah tebak. Ternyata, kata-kata nyamanmu itu teruntuk Daengmu di Timur. Seseoarang yang jauh di Timur sana. Aku cemburu.

Oiya, masih tentang ulang tahunmu. Pas dipagi hari jadimu yang ketujuh belas, kamu menanyakan perihal hadiahmu. Dan aku berbisik padamu via sort messege, aku hanya punya kecupan untukmu. Haaaaa! Respekmu membalas: “kecup pakai lirikan”. Olala! Segera aku lirik fotomu yang kala itu jadi wallpaper telepon genggamku. Hehe, aku mengecup fotomu yang berbingakai itu pakai lirikanku.

Kita berdua, merangkai asmara..
Jangan lagi merendahkan aku dengan kata-kata pengecut. Percayalah, aku seserius itu padamu. Jangan ragu akan kekonstintenan hatiku padamu.

Kita berdua, merangkai asmara..
Pernah kamu berkata, kamu butuh komitmen untuk seseorang yang nantinya mendampingi dan menjaga hatimu.

Berbentuk komitmen apa yang ada di hatimu?

Hey, sadarkah kamu, aku sampai di Ciputat ini dan aku bertahan hingga sekarang, bertahan hingga esok, lusa, dan lembaran lusa-lusa selanjutnya, itu karena disetiap langkahku menggelisah dan menggeliat asmaraku untuk menjadikan dirimu haribaan hingga menua usiaku. Tidakkah kamu inginkan kita sama-sama bersandar, lalu menghitung bintang-bintang kita di usia senja?

Kita berdua, merangkai asmara..
Yeahh. Tidak kupungkiri, disetiap langkahku di sini, ada sosok bidadari lain yang selalu melekat di benakku. Dia mamaku. Mamaku tersayang. Tahu nggak, Bihu? Di garis keturunan mamaku, akulah yang pertama yang menginjakkan kaki hingga ke anak-anak tangga perguruan tinggi. Aku merobek pola pikir kakek nenekku yang beranggapan seseorang yang hidup di garis segitiga pertanian, kenal pendidikannya hanyalah berlimit baca tulis. No.

Sejak kedekatan kita, sejak tunangan cyber kita, sejak kamu mengajak diriku untuk kuliah bersama, sejak kulihat kerut-kerut di wajah mamaku. Sejak kubaca tanda-tanda menurunnya kualitas netra ayahku. Aku mulai tergerak untuk mereformasi kasta di garis keturunan mamaku.

Dan semoga kamu menyadari satu hal, Bihu. Aku sampai di sini karena kamu. Aku berpikir, untuk memilikimu seutuhnya, mana mungkin seorang anak yang kastanya digaris minus bisa dikabulkan pinangnya jika yang dibidik adalah bidadari yang kastanya berdarah biru. Mustahil bukan? Diluar nalar. Mana mungkin bisa terjadi kayak romeo and juliet. Intinya, lagi-lagi, aku di sini karena kamu. Aku berkeinginan mengasah kastaku, biar tajam, mengkilat, biar bernilai di mata keluarga besarmu.

Kalu pun ini gak berhasil, dan kalau aku kehabisan cara, rasanya, aku hendak membawamu kabur. Aku ingin mencuri dirimu.

Kita berdua, merangkai asmara..
Kamu sudah tahu arti cinta nggak? Kalau aku, aku sudah bisa mendefinisikannya sejak kedekatan kita. Aku sudah bisa membedakan mana kagum mana cinta.
Di sini, aku berulang kali kagum kepada kaum hawa yang anggun hatinya dan tutur katanya.  Mulai dari Piya, wanita bercadar yang flash disknya tertinggal ditempat kerjaku. Wanita yang karakternya sama dengan wanita yang ada di balik “you’ll Be Sorry”. Wanita IKAMI yang sering memanggilku dengan sapaan Afika. Bahkan teman-teman facebook “you’ll be sorryku”  ada yang coba menarik perhatianku. Aku biasa saja. Bisa saja aku mendekati mereka. Tapi tidak demikian. Aku yang tergolong dalam karakter yang mudah kagum sama wanita sangatlah mensakralkan hati mereka. Hati yang tak boleh disentuh dengan permainan-permainan yang sedemikian rupa.
Aku kagum. Kagum  pada mereka, wanita-wanita anggun. Tapi kamu harus tahu, aku  tak bisa jatuh cinta pada mereka. Entahlah.

Terkadang, ketika aku merasa kamu memaini perasaanku dengan sifat keragu-raguanmu dan ketidak percayaanmu, aku sering berujar pada Tuhan “Kenapa Tuhan, kenapa Engkau tak menganugerahkan cinta padaku terhadap mereka? Kenapa Engkau tak membiarkan diriku merasakan debar-debar yang sulit dijabarkan seperti yang kurasakan pada Bidadariku yang ada di seberang sana? Ketika berulang kali Bidadariku meragu, kenapa Tuhan, kenapa Engkau tak menghapus saja perasaan yang ada di hatiku ini?”

Huawaa!

Bihu,
Usahlah meragu
Jangan perdebat komitmen
Bukankah cinta tak bersyarat?
Cinta adalah perasaan hati, bahasa hati.
Jangan pertanyakan bagaimana tidaknya aku membuat dirimu percaya.

Cinta adalah ketika aku ingin memilikimu dan aku takut kehilangan dirimu.

Dalam garis-garis jarak dan waktu, aku selalu menjaga perasaanku teruntuk hanya untukmu.

26 Maret 2012, 12:27

Asmara Kita Dear Bihu Kita berdua, merangkai asmara.. Kamu ingat nggak saat malam tahun baru? Kita kencan bukan? Kita be...

MOKAL



Asmara Kita



Kita berdua, merangkai asmara..
Kamu ingat nggak saat malam tahun baru? Kita kencan bukan? Kita bercerita banyak. Kita saling berpegangan kata. Senyum kita berjabat. Rayu kita bergandengan. Bahkan hati kita berpelukan. Malam yang sangat berkesan. Malam dimana malaikat cinta merestui dua-duan kita.

Tahu nggak, Bihu, dimalam kencan jarak jauh kita itu, aku ingin sekali mengajak kamu berdansa. Beriring seribu degub, kuberanikan diri melingkari tanganku dipinggangmu. Kamu lingkari tanganmu dileherku. Kubayangkan lingkaran tanganmu berpegangan erat pada leherku di atas kakimu yang numpang berdiri di atas kedu kakiku demi melekatnya jidat kita. Kita berteman lingkaran obat nyamuk bakar (aku nggak mau ada nyamuk yang mengusik kencan kita). Diiringi sentuhan lagu Guardian Angel, kita merangkai keromantisan di dalam bujur sangkar yang temaram.

Kita berdua, merangkai asmara..
Kamu ingat nggak jelang ulang tahunmu, kamu meminta hadiah padaku. Aku sebenarnya sudah mempersiapkan hadiah untukmu. Namun aku bingung. Aku takut kamu nggak suka. Dan pas malam jelang ulang tahunmu, aku diserang armada antuk. Aku segera berinisiatif untuk menulis ucapan selamat atas seventenmu. Padahal, waktu itu malam masih bergelantungan di angka 22.00. Masih ada dua jam menuju empat Januari. Saat itu, aku tak mau kecolongan. Akulah yang ingin jadi yang pertama yang mengucapkan kata selamat di wall facebookmu.

Masih tentang ulang tahunmu. Kamu ada nyoret catatan kan? Dalam catatanmu, kamu merangkai kata-kata nyaman untuk seseorang yang pertama kali ngucapin selamat ulang tahun kepadamu. Seseorang yang ngucapin selamat ulang tahun kepadamu sebelum tiba waktunya. Sama nian kronologi ucapan selamat ulang tahun yang kututurkan padamu. Aku pun berpikir, seseorang itu akulah orangnya.

Wuahh! Ternyata aku kecele. Aku salah tebak. Ternyata, kata-kata nyamanmu itu teruntuk Daengmu di Timur. Seseoarang yang jauh di Timur sana. Aku cemburu.

Oiya, masih tentang ulang tahunmu. Pas dipagi hari jadimu yang ketujuh belas, kamu menanyakan perihal hadiahmu. Dan aku berbisik padamu via sort messege, aku hanya punya kecupan untukmu. Haaaaa! Respekmu membalas: “kecup pakai lirikan”. Olala! Segera aku lirik fotomu yang kala itu jadi wallpaper telepon genggamku. Hehe, aku mengecup fotomu yang berbingakai itu pakai lirikanku.

Kita berdua, merangkai asmara..
Jangan lagi merendahkan aku dengan kata-kata pengecut. Percayalah, aku seserius itu padamu. Jangan ragu akan kekonstintenan hatiku padamu.

Kita berdua, merangkai asmara..
Pernah kamu berkata, kamu butuh komitmen untuk seseorang yang nantinya mendampingi dan menjaga hatimu.

Berbentuk komitmen apa yang ada di hatimu?

Hey, sadarkah kamu, aku sampai di Ciputat ini dan aku bertahan hingga sekarang, bertahan hingga esok, lusa, dan lembaran lusa-lusa selanjutnya, itu karena disetiap langkahku menggelisah dan menggeliat asmaraku untuk menjadikan dirimu haribaan hingga menua usiaku. Tidakkah kamu inginkan kita sama-sama bersandar, lalu menghitung bintang-bintang kita di usia senja?

Kita berdua, merangkai asmara..
Yeahh. Tidak kupungkiri, disetiap langkahku di sini, ada sosok bidadari lain yang selalu melekat di benakku. Dia mamaku. Mamaku tersayang. Tahu nggak, Bihu? Di garis keturunan mamaku, akulah yang pertama yang menginjakkan kaki hingga ke anak-anak tangga perguruan tinggi. Aku merobek pola pikir kakek nenekku yang beranggapan seseorang yang hidup di garis segitiga pertanian, kenal pendidikannya hanyalah berlimit baca tulis. No.

Sejak kedekatan kita, sejak tunangan cyber kita, sejak kamu mengajak diriku untuk kuliah bersama, sejak kulihat kerut-kerut di wajah mamaku. Sejak kubaca tanda-tanda menurunnya kualitas netra ayahku. Aku mulai tergerak untuk mereformasi kasta di garis keturunan mamaku.

Dan semoga kamu menyadari satu hal, Bihu. Aku sampai di sini karena kamu. Aku berpikir, untuk memilikimu seutuhnya, mana mungkin seorang anak yang kastanya digaris minus bisa dikabulkan pinangnya jika yang dibidik adalah bidadari yang kastanya berdarah biru. Mustahil bukan? Diluar nalar. Mana mungkin bisa terjadi kayak romeo and juliet. Intinya, lagi-lagi, aku di sini karena kamu. Aku berkeinginan mengasah kastaku, biar tajam, mengkilat, biar bernilai di mata keluarga besarmu.

Kalu pun ini gak berhasil, dan kalau aku kehabisan cara, rasanya, aku hendak membawamu kabur. Aku ingin mencuri dirimu.

Kita berdua, merangkai asmara..
Kamu sudah tahu arti cinta nggak? Kalau aku, aku sudah bisa mendefinisikannya sejak kedekatan kita. Aku sudah bisa membedakan mana kagum mana cinta.
Di sini, aku berulang kali kagum kepada kaum hawa yang anggun hatinya dan tutur katanya.  Mulai dari Piya, wanita bercadar yang flash disknya tertinggal ditempat kerjaku. Wanita yang karakternya sama dengan wanita yang ada di balik “you’ll Be Sorry”. Wanita IKAMI yang sering memanggilku dengan sapaan Afika. Bahkan teman-teman facebook “you’ll be sorryku”  ada yang coba menarik perhatianku. Aku biasa saja. Bisa saja aku mendekati mereka. Tapi tidak demikian. Aku yang tergolong dalam karakter yang mudah kagum sama wanita sangatlah mensakralkan hati mereka. Hati yang tak boleh disentuh dengan permainan-permainan yang sedemikian rupa.
Aku kagum. Kagum  pada mereka, wanita-wanita anggun. Tapi kamu harus tahu, aku  tak bisa jatuh cinta pada mereka. Entahlah.

Terkadang, ketika aku merasa kamu memaini perasaanku dengan sifat keragu-raguanmu dan ketidak percayaanmu, aku sering berujar pada Tuhan “Kenapa Tuhan, kenapa Engkau tak menganugerahkan cinta padaku terhadap mereka? Kenapa Engkau tak membiarkan diriku merasakan debar-debar yang sulit dijabarkan seperti yang kurasakan pada Bidadariku yang ada di seberang sana? Ketika berulang kali Bidadariku meragu, kenapa Tuhan, kenapa Engkau tak menghapus saja perasaan yang ada di hatiku ini?”

Huawaa!

Bihu,
Usahlah meragu
Jangan perdebat komitmen
Bukankah cinta tak bersyarat?
Cinta adalah perasaan hati, bahasa hati.
Jangan pertanyakan bagaimana tidaknya aku membuat dirimu percaya.

Cinta adalah ketika aku ingin memilikimu dan aku takut kehilangan dirimu.

Dalam garis-garis jarak dan waktu, aku selalu menjaga perasaanku teruntuk hanya untukmu.

26 Maret 2012, 12:27

Catatan Kecil Ramadhanku Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Sedikit cerita tentang ramadhanku di tahun lalu. Sejak memutuskan hijrah k...

Catatan Kecil Ramadhanku

Catatan Kecil Ramadhanku
Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Sedikit cerita tentang ramadhanku di tahun lalu. Sejak memutuskan hijrah ke kota Jambi, kebersamaan keluarga menjemput bulan nan indah dan berkah ini tiada lagi terasa. Sepi sekali. Tidak seperti sebelumnya saat aku masih ditengah-tengah Ayah dan Ibu, membantunya berjualan setiap hari tanpa lelah dengan cucuran keringat melayani para pembeli yang banyak cerewetnya. Ketika detak jam dinding menggelinding di angka 4. Para pembeli mulai berdatangan memborong semua makanan untuk berbuka puasa. Betapa senangnya, mereka datang dengan senyum dan sedikit wajah yg memelas karena menahan lapar dan haus selama 12 jam.
Lelah? Mungkin sedikit lelah karena menjaga lima toko hanya dengan tiga orang, aku, Ayah dan Ibu. Terkadang kesel juga kalau begitu ramenya sementara tangan Cuma dua, kaki juga Cuma dua. Berlari dari pintu 1 ke pintu lainnya, dan bisa kubayangkan hari ini betapa sibuknya dan betapa lelahnya mereka disana. Begitulah setiap hari di bulan puasa, tapi tidak di detik ini. Karena kini, aku hanya bertemankan pena dan tumpukan buku pelajaran yang kulakoni setiap hari demi mengejar mimpi. Dan semua itu kulakukan karena Ayah dan Ibu. Yah… Hanya belajar dan duduk enak di kursi. Sungguh sepi memang hidup ini, berbuka puasa tanpa keluarga. Ketika sahur tidak ada yang mencubit kakiku karena susahnya membangunkanku. Ah, aku rindu…mereka. Jujur, aku menulis cerita dengan senyum juga air mata yang meleleh. Semua ini tak dapat di ungkapkan oleh kata-kata. Memasuki bulan puasa tanpa mereka disisiku, tapi tetap ada dihatiku. Setiap berbuka puasa aku selalu menyisakan sesendok untuk mereka lalu berkata “Ayah, Ibu. Aku lagi berbuka puasa dan makananku hanya mie goreng Indomie dan teh es, semoga kalian juga merasakannya disana.” Sambil mengunyah, tak sadar aku menangis.
Sholat tarawih pun pergi sendiri ke surau terdekat. Tak lupa juga kusisihkan Doa untuk mereka agar selalu diberikan kesehatan jasmani dan rohani. Setelah selesai Sholat, terkadang aku pergi ke puncak rumah melihat kerlip bintang yang jauh digenggaman dan sedikit-sedikit kembang api yang bisa membuatku jingkrak jika melihat partikel-partikel api yang bertabrakan hampir menyentuh bintang sekaligus juga vaksin penyakit kesepian ini.  
Diberdayakan oleh Blogger.

About me

Flickr Images

Pengikut

Popular Posts